#nowplaying Andai Dia Tahu - RAN

/
0 Comments

Untuk kamu yang selalu saya sapa lebih dulu,

Apa kabar?
Sudah makan belum?
Sekarang lagi apa?
Gimana tadi harinya?

Saya mau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut dari kamu. Saya tau kamu punya jawabannya, satu-satunya jawaban yang saya nggak bisa minta dari orang lain. Pertanyaannya bukan soal logaritma kok, mudah sekali jawabnya...

Muncul lagi satu pertanyaan, kalau memang mudah kenapa saya tak kunjung dapat jawaban? Oh... ternyata saya yang nggak berani tanya sama kamu :)

Tanpa ingin terdengar menyeramkan, saya mau bilang kalau saya merhatiin kamu. Saya nggak ngeluh bahkan capek, saya justru senang banget bisa merhatiin kamu.

Yang saya nggak suka itu kalo ada orang yang lebih tau tentang kamu daripada saya. Saya takut mereka merhatiin kamu juga, saya lebih takut lagi kalau ternyata tanpa merhatiin kamu, kamu yang bilang ke mereka semuanya :)

Oh kalo gitu namanya cemburu?

Iya nggak pa-pa saya ngaku saya cemburu, loh tapi saya siapanya kamu pake cemburu segala? Sapaannya dibales saja udah syukur, apalagi dikasih hak buat cemburu sama kamu hehehehehe :)

Maaf ya, kamu bingung ya kenapa saya tiba-tiba langsung merhatiin dan bilang saya bisa cemburu?

Sekitar dua bulan yang lalu, saya duduk, tanpa ekspektasi apapun terhadapmu. Wajahmu saja familiar pun tidak waktu itu, namamu saja salah sebut waktu itu.

Lalu kamu berdiri paling depan, kamu terangkan sesuatu yang sifatnya sangat normal dengan cara bicara yang atipikal.

Kamu laki-laki atipikal, saya nggak tau harus makasih atau nggak karena kamu sudah menjadi itu.

Jarang ada laki-laki yang berani bicara ke depan, bicara tegas tanpa kesan terhormat, bersahabat namun tetap berwibawa. Tapi kamu seperti itu.

Entah apa banjir bulan Januari penyebabnya, tapi saya mengajukan satu pertanyaan, mudah dapat kamu jawab tapi sayangnya... Saya nggak nanya sama kamu

"Itu yang didepan siapa namanya?"

Lalu ber-ooh ria setelah tau namamu dalam hati ingin tau lebih banyak, dan senyam-senyum.

"Namamu bagus."

Suatu saat saya akan bilang begitu. Bukan, bukan sekarang waktunya.

Kamu manis, kulitmu hitam, rahangmu lucu tapi tegas. Sekian.

Saya kira memang akan menjadi sekian kekagumannya sampai situ.

Bertanggung jawab, ramah, berwibawa, humoris dan memegang teguh kepercayaannya. Sekian.

Saya kira cukup, cukup tau.

Saya kira kamu akan menjadi pemandangan untuk saya, hanya dapat saya lukis keindahannya tanpa bisa saya miliki :)

Tuhan berucap, bahwa saya akan bertemu kamu cukup sering setelahnya. Maka terjadilah.

Tuhan berucap, dari keramahan dan rahang yang tegas akan muncul sebuah senyum yang kamu sukai. Maka terjadilah.

Tuhan berucap, saya akan sadar betapa lelah matamu dan betapa ingin saya mengusir lelah itu. Maka terjadilah.

Pada saat saya pikir saya jatuh cinta, Tuhan menghendaki. Namun saat saya ingin memiliki, Tuhan berujar lain.

Kenapa jadinya tidak adil? Tanpa ada kehendak Tuhan lebih lanjut untuk entah membahagiakan saya atau mengecewakan... Saya menarik kesimpulan yang mudah-mudahan membuat Tuhan bangga :

'Jika Tuhan menghendaki saya untuk menyimpan amanah perasaan sebegini besarnya, maka saya bisa dan harus menjaga amanah ini.'

Lalu terjadilah sebuah fenomena yang dikenal sebagai : Jatuh Cinta Diam-diam

Saya nggak masalah dengan memegang amanah perasaan ini sejauh ini, tapi saya hanya takut perhatian saya yang diam-diam untuk kamu jadi mubazir...

Kalau di kelas jangan duduk paling belakang terus ya, nanti ga kedengeran!

Kalau tidur jangan malam-malam, kamu orangnya aktif, tidur salah satu sumber energi!

Kalau baca atau lihat apapun itu, taro depan mata jangan di bawa jadinya punggungmu bongkok!

Kalau saya perhatiin kamu jangan jutek, nanti saya sakit hati!

Hehehehehe....

Sejauh ini harapan saya hanyalah jawaban dari "Apa kabar?" "Sudah makan belum?" "Sekarang lagi apa?" "Gimana harinya?"

Mudah-mudahan kamu bisa jawab ya :)

Dari saya yang mendedikasikan playlist lagu saya untuk kamu.



You may also like

Tidak ada komentar:

Pages

PROFILE

Foto saya
A girl who lives a fairytale